Pages

24 Mei 2018

Blitar #MyNewLifeBegin

0 Comments

Blitar merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang masih minim dengan gedung-gedung tinggi. Sawah masih terbentang luas, gunung terlihat menjulang tinggi dengan awan dan matahari yang biru cantik, dan pantainya selalu menarik orang untuk kembali lagi. Siapa yang tidak jatuh cinta dengan kota ini?

Aku sebagai anak kota yang hidup lama di kota besar, mendengar suami menawarkan hidup setelah menikah di Blitar sudah pasti excited. Bosan lihat mall dan hiruk pikuk sibuknya Surabaya yang tidak pernah istirahat, rasanya ingin pindah ke dunia baru yang sepi, damai, dan tenang. Namun kebiasaan lama yang suka hedon dan jajan di Surabaya tidak bisa ditoleransi apabila sudah pindah. Tentu, Surabaya memiliki berbagai fasilitas yang memudahkan dan membuat nyaman penduduknya. Mau makan manis-manis, tinggal pencet-pencet hape dan pilih menu di Go-Food atau Grab-Food di rumah, dan tak lama pesanan makanan datang. Atau bosan sama menu disana, bisa tinggal scroll di timeline grup kuliner Surabaya di Facebook. GKS salah satunya tuh, grup kuliner Surabaya yang paling rame. Banyak pedagang rumahan yang merintis usahanya dimulai dari situ, dan tak ketinggalan dengan hastag #GSKPedagang. Aku pernah menjadi salah satu pedagang GKS musiman, dan alhamdulillah dalam waktu sehari bisa menjual hampir 20 porsi Pempek Palembang. Pedagang happy, konsumen juga happy dapat makanan enak-enak dengan harga murah. Tentunya membeli makanan di mereka ini lebih murah daripada membelinya di mall atau lewat aplikasi Gojek atau Grab karena mereka tidak memakai pajak dan tidak bekerjasama dengan pihak lain. Pengalamanku selama beberapa kali njajan dari grup Facebook ini selalu memuaskan. Cocok sama lidahku dan keluarga. 

Nah, perasaan takut tidak bisa adaptasi dengan kebiasaan hedon-ku yang tidak bisa terlampiaskan di Blitar langsung membuat bingung. Sudah pernah kepo dengan grup Facebook kuliner Blitar, tapi sama sekali enggak ada yang menarik. Tapi, ya sudahlah, kalau takut gimana mau melangkah ya?

Alhamdulillah sudah hampir lima bulan aku tinggal di Blitar. Drama jadi istri rumah tangga sudah banyak banget terlewati. Mulai dari belajar mengatur keuangan untuk biaya hidup sebulan, menabung, sampai merencanakan menu makan seminggu kedepan. Bersyukur banget suami mengabulkan permintaanku untuk membeli lemari pendingin, jadi tidak sehari sekali harus ke pasar. Pasar lumayan jauh dari rumah. Itupun cuma menyediakan sayur mayur. Ayam, ikan, daging, seafood tidak dijual. Kalau mau cari harus ke pasar yang lebih besar lagi, dan tentunya jaraknya lebih jauh lagi :'))

19 Maret 2018

My Skincare Routine

5 Comments

Hola!

Setelah sibuk sendiri enggak jelas dan belajar jadi ibu rumah tangga, alhamdulillah bisa update blog lagi. Yeaaaay! I know blog ini cuma tempat saya menumpahkan kegelisahan dan belajar mengupdate hobi menulis saya, jadi mohon maklum kalau ngerjainnya masih separuh-separuh; separuh mood - separuh gak mood :)))

Judulnya hari ini mau jadi beauty blogger sehari, haha. Kehabisan ide? Hmm mungkin bisa jadi sih, huahaha. Ini sekedar sharing saya mengenai perawatan kulit wajah yang saya gunakan. Saya berbagi info tentang skincare ya, bukan make-up. Saya gak doyan pakai make-up. Kemana-mana cuma pakai BB Cream dan bedak dari Wardah, lalu pensil alis, mascara dan lip balm Lip Ice. Terus terang saya gak telaten ngikutin make-up sekarang yang makin banyak variannya. Yang highlight-lah, bedak ada yang loose powder dan tipe macam-macam-lah, lipstik ada yang dari matte sampai lip cream-lah. Duh, saya tahu diri gak bakat disana.. Saya lebih interested dibidang perawatan kulitnya.

Dari zaman kuliah saya gak pernah neko-neko untuk perawatan wajah. Dari semester satu sampai semester empat, kuliah cuma pakai bedak Marcks atau bedak bayi. Buat bersihin wajah pakai Milk Cleanser dan Toner dari Viva yang ada di Indomart atau Alfamart (yang nyarinya gampang). Baru agak endel dikit nyoba pakai pembersih wajah Clean & Clear. Itupun juga tergantung mood pakainya, makanya pakai sebulan jarang pernah sampai habis. Untungnya tipe wajahku ini ya gak neko-neko juga. Gak gampang muncul jerawat dan perawatannya mudah. Sampai suatu saat sama ibu coba diolesin cream wajah favorit serumah (karena yang pakai adikku cowok, mbakku, dan ibuku), dan besoknya wajahku langsung membengkak dan memerah. Orang serumah jelas heran, karena mereka pakai cream itu tidak muncul masalah. Sama bapak langsung diajak berobat ke dokter dan si dokternya bilang kalau kulitku termasuk sensitif. Sebelum pulang, dokter menyarankan agar aku memakai sabun bayi terlebih dahulu untuk membersihkan wajahku. Jadinya saya pakai sabun bayi hampir kira-kira setahun. Dan sampai pada akhirnya mas pacar waktu itu menawarkan sabun susu jualan tantenya. Ngikut deh beli karena sungkan sama pacar sendiri dan tantenya. Eh kok cocok... dan keterusan deh sampai sekarang saya pakai.

Berbekal pengalaman yang enggak enak karena pemakaian cream (yang tidak jelas dokter mana yang buat meskipun di labelnya tertulis nama seorang dokter), saya kapok pakai skincare yang mengandung bahan-bahan kimia. Well, di drugstore dan supermarket manapun pasti menjual produk pabrikan yang sudah punya nama dan sudah punya izin edar BPOM. Memang itu aman meskipun di ingredients-nya tertulis berbagai macam nama kimia yang saya banyak tidak tahu itu apa. Tapi saya masih trauma tentang kejadian cream favorit orang rumah itu. Jadinya pilihan saya jatuh pada skincare alami atau organik yang sudah pasti jelas itu aman untuk kulit sensitif saya.

Untuk sabun wajah, saya sampai sekarang masih menggunakan sabun susu kambing etawa VCO. Di online shop lokal sudah banyak yang menjual ini. Tapi yang saya kenal terlebih dahulu dan yang saya pakai sampai saat ini adalah punya Virgin Natural Cosmetic. 


Saya pakai ini kira-kira sudah hampir empat tahun. Bahkan tidak hanya untuk wajah saya saja, tapi untuk seluruh badan. Jerawat cepat kering dan bekas jerawat yang warna hitam juga cepat ganti kulit. Wanginya yang seperti sabun bayi buat saya makin jatuh cinta dengan sabun ini. Saya yakin produsen sabun ini tidak pakai parfum untuk membuat sabun ini wangi sekali untuk menarik perhatian pembeli. 

Untuk exfoliator, saya punya masker andalan dari Ratu Organik. Namanya masker Green Tea.


Yang saya suka dari masker ini, wanginya perpaduan green tea dan susu. Setelah pemakaian, kulit wajah terasa lembut dan wangi susu. Kandungan green tea didalamnya bisa menyerap racun dan menyembuhkan lebih cepat jerawat yang bandel. Pernah sekali saya coba mix pakai masker ini dengan susu Bear Brand. Ya ampun, hasilnya lebih bikin takjub karena membuat wajah saya lebih cerah. Butiran oat didalamnya bisa sebagai scrub sehingga dengan mudah mengangkat sel-sel kulit mati.

Memakain skincare organik itu harus sabar dan telaten. Prosesnya yang tidak bisa cepat seperti menggunakan skincare lain yang memakai bahan kimia kadang buat bosan dan ragu-ragu untuk meneruskan. Tapi pengalaman saya selama empat tahun menggunakan skincare organik alhamdulillah aman-aman saja. Kulit terasa lebih sehat. Cobain deh.. Karena menurut saya, investasi kulit beberapa tahun kedepan itu lebih mahal. Kalau kulit sehat dan cerah alami, orang sekitar pasti akan lebih senang dekat-dekat dengan kita. 

Bagi yang ingin mendapatkan produk skincare organik, mudah banget dapetinnya. Kalian bisa searching terlebih dahulu di google atau scrolling di Instagram. Sudah banyak banget orang yang kasih review sehingga memudahkan untuk memilih. Saran saya, pilih produk yang sesuai kebutuhan dan jenis kulitmu ya. Jangan sampai jenis kulitmu kering tapi kamu memilih produk yang buat kulitmu semakin dehidrasi. 

Untuk dua produk diatas, teman-teman bisa menghubungi saya kalau ingin mencoba. Karena saya juga menjual produk-produk tersebut. Insyaallah, berbekal pengalaman saya sendiri sebagai pemakai bisa sebagai referensi kalian untuk mencobanya. 

Sekian review dari saya. Saya bukan ahlinya, namun saya lebih suka prinsip #sharingiscaring . Bagi yang punya pengalaman serupa dengan saya, bisa sharing di komen. Terima kasih. Semoga postingan kali ini bermanfaat bagi siapapun :)

8 Januari 2018

Dia: Putri

1 Comments



Dia, Putri. Adik kecil yang banyak tanya dan suka bernyanyi. 
Umurnya belum genap 3 tahun, tapi begitu banyak pertanyaan tentang dunia yang ia tanyakan.


Darinya, aku diberitahu bagaimana menjadi kakak dan sebagai orang tua.
Darinya, aku mengetahui bahwa dunia mereka itu sangat luas.
Darinya, banyak hal yang tak terpikirkan terjadi.


Terima kasih.
Warnamu membuat keluarga kecil ini kembali seperti pelangi.

7 Januari 2018

Mencoba Jadi Orang Lain

0 Comments

Pernah tidak disuatu titik kamu suka termenung, memperhatikan orang lain, lalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain? Saya sering banget. Kegiatan ini mulai menjadi hobi ketika memasuki usia 22 tahun keatas, dimana perbandingan ini menjadi bahan koreksi.

Lihat saudara yang suka teriak-teriak marahin anaknya.. Saya jadi aware untuk tidak akan melakukan hal tersebut jika nanti punya anak karena akan membuat psikologi anak menjadi down. Lihat orang lain makan nasi bungkus dipinggir jalan dengan tangan kotor dan kondisi sangat menyedihkan.. Saya jadi sangat bersyukur masih bisa makan dengan nikmat di rumah dan bersama keluarga. Lihat teman bisa beli rumah sendiri.. Saya jadi berlipat-lipat semangat mengejar kekurangan nabung yang dulu sempat berhenti.

Terkadang untuk mengintrospeksi diri sendiri harus melihat dan menjadi orang lain dulu. Dengan begitu jadi tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan orang tersebut. Lalu muncul motivasi positif dan energi syukur yang mengalir. 

"Iya, mungkin orang itu belum tahu bahwa berkendara seperti itu berbahaya.." atau "Iya, mungkin orang itu tidak sadar bahwa galau di sosmed malah menunjukkan kekurangannya." 
Dengan pikiran-pikiran positif seperti itu, mengurangi banget mengeluh atau berkomentar yang tidak baik. Bagusnya, saya selalu jadi punya pikiran positif dan tidak mengkhawatirkan sesuatu yang berlebihan.


#sharingiscaring

25 Desember 2017

Serunya Menjadi Pebisnis! #1

4 Comments


-foto dagangan-



Holla!


Adakah pelaku bisnis online disini? Coba ngacung, saya mau cari bolo :D
Saya awalnya juga gak tahu kenapa bisa kecemplung dan ketagihan dengan 'mainan' baru ini. Sama sekali gak punya ilmu, skill, ataupun pengalaman. Berbekal modal nekat karena waktu kuliah merasa uang kiriman orang tua kurang, ada peluang kecil dari tawaran tante mas pacar (waktu kuliah masih pacar, kalau sekarang suami dooongs) jualan, akhirnya berani nyobain. Coba pasang di Facebook. Waktu itu masih belum banyak online shop, jadi pesaing dikit. Teman-teman dekat banyak yang tertarik, akhirnya ada satu-dua pembeli. Eh makin kesini kok makin asyik, hehe.

Apa asyiknya, sih? Banyak! Pertama, selaku pebisnis online harus pintar buat deskripsi yang menarik. Nah, karena saya hobi nulis, jadi menulis deskripsi menarik dan panjang itu adalah kegiatan yang seru. Kalimat satu-dua mengalir begitu saja berdasarkan hasil testimoni customer yang sudah nyobain. Hanya berbekal testimoni. Pernah buntu? Pernah dan sering. Tapi kembali lagi kepada niat kalau bikin deskripsi itu harus semenarik mungkin. Kecenderungan calon pembeli pasti akan membaca deskripsi sedetail-detailnya terhadap suatu produk yang ingin dia beli.

Kedua, selaku pebisnis online harus memperluas jaringan pertemanan mereka. Jadi waktu awal kali merintis, saya add semua teman yang jadi target pasar. Karena bisnis saya dibidang kecantikan, jadi yang saya add adalah teman perempuan yang kelihatan suka dandan dan merawat diri. Pilih-pilih teman seperti itu susah-susah gampang. Saya harus memelototi list teman di salah satu teman, bergilir ke teman lainnya. Kadang sampai seharian buat seperti itu. Untung kalau mereka mau menerima permintaan pertemanan. Kalau tidak ya harus legowo, hehe.

Ketiga, pebisnis online tidak punya waktu yang kaku untuk mencari uang. Memang tidak kaku, tapi terkadang waktunya bisa melebihi 24 jam. Pernah suatu ketika ada calon customer yang chat malam-malam cuma mau tanya jual sabun apa saja. Padahal di postingan sudah dituliskan detail dan terperinci. Nah ini dia. Ilmu tambahan yang harus dipelajari otodidak adalah mencoba mempelajari sifat customer. Untungnya di media sosial ini disediakan banyak emoji. Jadi semarah apapun tidak akan kelihatan ^^

Keempat, pebisnis online harus bisa mengatur cash flow pendapatan mereka. Sebisa mungkin walaupun pendapatan sedikit, harus bisa stok sabun dan sedekah. Saya bukan tipe wanita yang pintar berhitung, apalagi soal duit haha. Tapi beruntungnya saya hidup dijaman canggih dimana kalkulator diciptakan. Yang penting catatan harus ada. Jadi bisa menghitung untung-rugi yang didapat.

Kelima, pebisnis online harus bisa merencanakan mau dibawa kemana bisnis mereka. Harus ada timeline-nya, harus ada list apa yang harus dikerjakan. Dulu waktu kuliah ngerjainnya yaaaa semengalirnya aja. Posting produk, ada yang beli, terus ditanya feedback-nya, kalau feedback-nya bagus diupload, kalau enggak ya biarin aja. Hahaha. Makin kesini, saya makin tahu kalau pebisnis harus punya list to do yang harus dikerjakan. Daaaan juga service customer yang perlu ditingkatkan. Jadi kalau ternyata customer yang tidak cocok dengan sabun yang dia beli, coba dijelaskan dengan baik kenapa seperti itu dan ditawarkan produk lain yang mungkin cocok untuk dia. Pokoknya layani dengan baik, buat dia nyaman. Kalau kita bisa menjelaskan baik-baik, dia percaya dan nurut, lalu feedback-nya baik, customer tidak akan lari ke yang lain :)

Itu sih menurut saya letak dimana asyiknya berbisnis online. Masih banyak banget sebenarnya ilmu yang harus dipelajari otodidak dan 'kagetan' selama hampir empat tahun merintis bisnis ini. Bersyukur banget di era yang begini, makin banyak pesaing tapi makin banyak juga yang sharing ilmu bisnis mereka secara gratis tanpa perlu mengeluarkan uang *duh Laras orangnya perhitungan banget ya haha.

Sampai sekarang saya masih terus upgrade ilmu. Kapanpun dan dimanapun. Media sosial harus benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai media untuk mencari uang dan mencari ilmu. Sudah gak jamannya nyampah di media sosial :)


Well, sekian dulu sharing dari saya. Niatnya tadi mau sharing dikit aja, tapi kenapa jadi panjang gini ya? Hehehe semoga tulisan ini bisa menginspirasi siapapun yang membacanya. Kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan drop di kolom komen dibawah. Kalau bisa saya jawab, saya jawab. Kalau enggak bisa, maafkan yaaa. Saya juga masih pemula dan belum expert soal ini. Bolehlah kapan-kapan *entah kapan* para beginner online shop buat grup buat belajar sama-sama. Sepertinya seru! :)

22 Desember 2017

Arti Hari Ibu Untuk Anak Broken Home

0 Comments

22 Desember 2017. 

Aktifitas pertama yang saya lakukan setelah bangun tidur adalah membuka semua sosmed. Bergiliran. Harapannya pedagang online seperti saya adalah menemukan notifikasi calon customer yang kecantol dengan postingan yang saya buat. Nyatanya saya malah tertegun melihat beranda sosmed hari ini. Semua orang upload foto dirinya dengan ibunya. Dengan caption manis dan tambahan "I Love You, Ibu". SEMUANYA. Entah itu di Instagram, Facebook, bahkan jejaring chat pribadi seperti Whatsapp.

Rasanya ada luka lama yang mengalir dan memenuhi kedua kelopak mata saya. Sedih.

Keluarga saya memang tidak sempurna dan tidak lengkap. Orang tua saya bercerai sewaktu saya kuliah. Berkali-kali saya katakan pada pikiran dan hati, ini takdir. Apapun alasannya, ini takdir. Semua hal yang ditahan terlalu lama memang tidak baik, kan? Ya, ini benar. Positif dan negatif dari keputusan yang diambil harus diterima oleh kami. Meskipun sampai bertahun-tahun luka dari pelajaran berharga ini masih membekas.

Saya dan adik lebih dekat dengan bapak. Bapak bagaikan ayah dan ibu bagi kami --walaupun ada ibu 'asli' di keluarga kami. Bapak memberikan segalanya untuk kami, mengalahkan apa yang dilakukan ibu. Dan semenjak perceraian itu terjadi, kami berdua semakin dekat dengan bapak.

Saya dan adik tidak dekat dengan ibu. Bahkan sampai umur saya 25 tahun, saya tidak pernah sepaham dengan keinginan ibu. Kejadian itu memang sudah lampau, tetapi ingatan menyakitkan itu masih membekas diingatan saya. Bukan, bukan dendam. Berkali-kali saya memberitahu otak dan mendoktrin hati untuk memaafkan apa yang telah terjadi. Memang sudah dimaafkan, bahkan lupa. Namun suatu waktu kejadian itu muncul lagi dalam kisah baru, membuat saya selalu mengingatnya lagi.

Malam ini pikiran saya kembali berkecamuk. Inginnya ikut netizen yang juga upload foto dengan ibunya di Hari Ibu ini. Tapi, sisi hati saya yang lain tidak setuju jika saya melakukan pencitraan. Akhirnya saya cuma bisa nulis apa yang menjadi gelo disini :')


***
Maafkan saya, bu, yang tidak bisa seperti anak lain yang romantis pada ibunya hari ini. Hanya doa yang bisa saya panjatkan hari ini. Berbahagialah dengan keputusanmu.

12 Desember 2017

Being BIG Sister

2 Comments

Saya anak pertama dari empat bersaudara. Dulu, saya anak pertama dari dua bersaudara. Dikarenakan bapak saya menikah lagi, selang gak lama lahirlah adik-adik kecil yang lucu. Adik kedua namanya Putri. Umurnya sekitar 2 tahun lebih. Juni tahun depan ia berumur 3 tahun. Adik ketiga namanya Taufik. Umurnya sekitar satu tahun lebih. Maret nanti ia berumur 2 tahun. Selisih umur diantara mereka cuma 10 bulan. Masih kecil-kecil. Masih suka bereksplorasi sana dan sini yang suka bikin serumah ramai. Yang satu susah diatur karena rasa penasarannya.. Yang satunya lagi suka tiru-tiru kakaknya. Jadi hampir 24 jam saya ngemong mereka disela ibu mereka mengurus beberapa perintilan pekerjaan rumah dan pekerjaannya. 

Bisa dibilang ini real life magang saya sebelum jadi ibu. Meskipun saya gak turut campur soal mandikan dan mengganti popok adik-adik saya, tetapi yang namanya meladeni mereka itu juga butuh belajar. Kadang si Putri minta dinyanyikan lagu Happy Birthday, si adik enggak suka. Jadinya teriak-teriak "Emooooh emooooh". Kalau saya nerusin nyanyi, si adik bisa terus-terusan teriak seperti itu. Kalau si adik enggak diperhatikan, si adik pasti merasa sedih karena merasa gak didengarkan. Saat seperti ini benar-benar menguji kesabaran saya.

Banyak hal kecil yang mengundang mereka bertengkar. Mulai dari rebutan mainan, rebutan makanan, bahkan soal cari perhatian seperti tadi yang saya jelaskan. Padahal sudah dari beberapa waktu lalu saya mengajarkan mereka soal berbagi. Tetapi yang namanya anak kecil mana tahu menahu soal itu kalau sudah maunya. Sering saya marah kepada mereka. Sering juga saya memukul atau mencubit kalau mereka tidak mau mendengar penjelasan saya. Sedih sih, maunya gak main tangan. Tapi namanya masih labil, jadi belum bisa sabar menghadapi 'cobaan' seperti itu. Saya mukul atau nyubitnya juga gak banter-banter. Seperti nyubit gemes, gitu, tapi dengan ekspresi marah. Mereka berdua aja yang lebay sampai nangis kejer-kejer saya begituin, haha.

Serius susah punya anak itu. Pengalaman ngemong anak dua dengan jarak 10 bulan seperti ini kadang bisa bikin saya stress. Apalagi ketambahan suami yang gak pulang-pulang. Huaaa berasa streeeesss banget T___T
Maunya nih saya menerapkan sistem parenting seperti yang diajarkan beberapa mommy-mommy muda yang saya ikutin Instagramnya. Tapi susah banget. Ada beberapa alasan dari hasil analisis saya: Yang pertama, lingkungan gak mendukung. Saya ingin adik saya bukan seperti anak kecil lainnya yang sudah kecanduan gadget. Pada saat saya mencoba menerapkan disiplin anti gadget kalau didekat mereka, eh ibunya gak bisa jauh-jauh dari handphone karena pekerjaannya yang tiap saat harus menerima orderan lewat handphone. Yang kedua, tidak 1 visi. Jadi misal saya dan bapak berusaha untuk tidak berbohong kalau ngomong dengan si adik-adik. Apapun kondisinya. Namun di satu kondisi, pada saat kedua anak ini rebutan ingin digendong bapaknya dan salah satu gak mau ngalah, si nenek tiba-tiba datang dan bilang "ayo ikut mbah, ada odong-odong di depan". Padahal gak ada odong-odong lewat depan rumah. Case seperti ini bisa buat anak tidak percaya kepada keluarganya karena dibohongi. Oke, mungkin ini namanya perbedaan parenting zaman now dan parenting zaman old.

Dari pengalaman bapak saya ini..... Saya bisa menarik kesimpulan bahwa mengatur jarak pada anak itu perlu! Iyes, betul. Bisa prepare mental, bisa siapin dananya, dan yang pasti bisa mengatur prioritas. Entah ya, di posisi bapak saya sendiri seperti apa yang dirasakan karena saya dan adik saya pertama juga jarak umurnya 13 bulan. Tapi kalau saya sendiri menghadapi dua krucil seperti itu sudah sangat melelahkan.


Being BIG sister is not easy..