Pages

9 Desember 2017

Teh dan Kamu

0 Comments


pict by pinterest



Dulu, waktu ini adalah yang kita nanti

Memojok dalam ruangan, sedekap dalam hangat,
Bersama teh yang baru aku buat

Ceritanya kita membaca drama,
Tak ayal televisi yang iri melihat kita
Asyik memperhatikan satu sama lain
Memandang dalam pahala
Bergandengan tangan tanpa bosan
Hingga teh menjadi dingin

Tetap kamu yang terfavorit
Walau tujuh tahun mengenalmu tiada akhir
Teh dan Kamu dalam detik yang sama,
Hati tetap merindukan wangi dan peluh yang sama: Kamu

5 November 2017

Apa Rasanya Setelah Menikah?

2 Comments

Hampir 2 bulan berganti status menjadi istri orang. Bagaimana rasanya?

Dulu memang goals banget bisa segera melangsungkan pernikahan dikarenakan usia pacaran kami yang sudah sangat lama. Hmm 6 tahun lebih beberapa bulan. Itu bukan waktu yang sebentar. 4 tahun masih bisa bareng-bareng karena kuliah bersama di kota dan perguruan tinggi yang sama. Kemudian sisanya banyak LDR nya. Mamas kerja di Berau, Kalimantan Timur. Sedangkan aku 2 tahun kerja di Batam dan sisanya kembali ke rumah (Surabaya). Berbekal pengalaman 2 tahun LDR yang enggak enak itu, ya akhirnya di akhir tahun 2016 itu kami memutuskan ingin segera menikah. Baru bisa realisasinya September 2017 kemarin. Hampir 1 tahun ya? Iyalah, dramanya banyak banget yang harus buat kami sabar-sabar-sabar lagi-dan terus harus ikhlas karena ada beberapa rencana tidak bisa berjalan sesuai rencana. Mungkin itu, kali ya, yang disebut ujiannya orang mau nikah.

Harapannya setelah nikah itu kangennya gak kebangetan waktu LDR, eh tapi kok malah lebay banget. Keputusan kami untuk masih tetap LDR ini sebenarnya cobaan yang sungguh luar biasanya. Aku disuruh menetap dulu di Surabaya, sedangkan mamas tetap kerja di Berau. Aku tenang-tenang aja karena (pikirku) mamas akan on time pulang 2 bulan sekali, seperti sebelum-sebelumnya. Tapi baru juga ditinggal merantau, menunggu 2 bulan lagi itu seperti menunggu 200 tahun. Lebay banget kan? Ini aku juga enggak tahu kenapa aku bisa lebay banget mikirnya seperti ini. Padahaaaal dulu zaman pacaran itu ya santai aja. Enggak bisa ketemu, ya udah, yang penting bisa komunikasi. Whatsapp gak dibalas, ya udah, berarti orangnya ketiduran kecapaian kerja. Sekarang? Whatsapp cuma centang biru doang sampe paginya dan gak ada balasan bisa ngambek gak ketulungan. Mamas bolak-balik telepon tapi aku gak mau angkat. Sumpaaaah kayak anak kecil banget! Kadang tiba-tiba nangis sendiri gitu. Dan parahnya yang biasanya setelah nikah tidurnya cepat, habis ditinggal suami merantau malah makin malam tidurnya. Insomnia. Apa sih yang aku pikirin?!

Masih belum bisa paham kenapa mood bisa naik turun kayak gini. Ujung-ujungnya pelariannya adalah njajan dan harus keturutan. Kalau gak keturutan, wah moodku langsung jelek lagi. Aku juga gak tahu kenapa mood swing ku bisa seperti ini. Mamas disana biasa saja, padahal pressure kerja disana tinggi. Aku apa coba pressure nya? Nombok kangen tok? Duh kok cemen sih. Masa iya kalau orang udah nikah itu kangennya harus segera keturutan? Kan enggak toh? Iya toh? Terus kenapa aku cemen sekaliiii :(






Surabaya, lagi di kamar atas dengan mata masih bengep karena pagi tadi nangis gak jelas,

Udah November aja ya, udah hampir 2 bulan lho ini :((

27 September 2017

#MyNewLifeBegin : Menikah Tanpa Resepsi

7 Comments

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

Puji syukur saya dan suami sampaikan, akhirnya kami melewati fase ini. MENIKAH. Alhamdulillah, yey! Setelah susahnya menabung hampir tiga tahunan, belajar menyisihkan uang gajian dari godaan dunia yang banyaaaaak sekali, pacaran enam tahun lebih yang gak mulus jalannya karena saya yang hobi nggondok kalau ditinggal tidur, perihnya pacaran LDR Batam-Berau atau Surabaya-Berau yang gak bisa ditentukan kapan ketemuannya dan masih banyak lagi kendala-kendala yang kami hadapi menjelang keputusan ini. 

Well, keputusan untuk menikah memang bukan keputusan yang bisa diambil gampang. Apalagi kami baru sama-sama menikmati uang hasil kerja dua-tiga tahunan. Masih banyak gejolak ingin foya-foya dan menyenangkan diri sendiri. Tapi kembali lagi mencoba menengok keinginan hati masing-masing, akhirnya kami memutuskan untuk menikah.

Waktu pertama kali cerita ke teman dekat rencana pernikahan kami, saya selalu menceritakan konsep pernikahan sederhana kami yang hanya melaksanakan akad dan syukuran kecil-kecilan di rumah makan dekat rumah. Tidak pakai dekorasi, terop ataupun kuade yang biasanya dipakai seperti orang lain punya acara. Ada beberapa alasan mengapa saya selalu menceritakan panjang kali lebar soal ini. Yang paling utama adalah agar para undangan maklum dan bisa datang ke acara kami tanpa canggung. Mungkin banyak yang bertanya mengapa memilih menikah dengan cara seperti ini.. Jawaban saya simpel: Karena masih banyak keperluan yang harus kami siapkan setelah selesai acara. It means rumah, perabotan, tabungan jangka panjang, sepeda motor, tabungan anak, dan lain-lain yang gak bisa dilist satu persatu. Menikah tanpa resepsi seperti ini sebenarnya adalah permintaan bapak, melihat background orang tua saya yang divorce dan masing-masing sudah menikah dan tidak mungkin pada saat acara mereka harus 'dipajang' bersama. Namun kembali lagi dengan cara pikir kami yang 'sangat' sederhana memandang acara ini seperti yang saya telah jelaskan sebelumnya. Kami harus banyak puasa dan menabung untuk kedepannya, karena kami tahu banget rasanya mencari uang dan sangat menyayangkan apabila uang puluhan juta harus dihabiskan semalam.

Kami sengaja hanya mengundang 90 undangan. Itu berarti sekitar 180 orang yang hadir. Yang kami undang hanyalah saudara, tetangga dan teman dekat. Untuk mengatasi orang lain yang tidak diundang iri, kami memberitahu mendadak dan (lagi-lagi) menjelaskan detail acara syukuran kami. Dengan begitu yang diundang akan tahu bahwa kami tidak mengadakan acara besar-besaran dan tidak share cerita sana-sini. Undangan hanya kami sampaikan via telepon dan pesan Whatsapp. Iya, kami gak cetak undangan untuk menghindari budget berlebih dan lagi-lagi menyayangkan uang yang dipakai hanya untuk cetak undangan 90 lembar saja *haha.

Percaya tidak untuk mempersiapkan pernikahan ini kami hanya mempunyai budget sekitar 17 juta? Sangat mustahil rasanya merayakan pernikahan di Surabaya dengan budget minim sekali seperti itu, apalagi saya niatnya pengen temanya outdoor party yang serba hijau. Maksud saya jadi misalpun minim dekorasi buat foto-foto itu tetap bagus dan enak dipandang. Namun setelah searching sana-sini untuk sewa taman atau lapangan golf buat nikahan itu ternyata mihil banget. Saya dan bapak curhat ke tante Wiwik soal permasalahan kami. Tante bilang kalau ingin konsepnya seperti itu bisa nyoba tanya-tanya ke Restauran Agis (dekat masjid Agung) dengan minimal tamu undangan sekitar 300 orang. Tapi dari hasil searching kemarin, restauran Agis bukan seperti konsep yang saya inginkan yang pengennya nginjak rumput hijau ditemani dengan semilir angin. Setelah diskusi berkepanjangan, akhirnya tema outdoor kami coret dan memilih untuk indoor saja dengan konsep sederhana. Mulai deh saya keliling ke banyak restauran buat tanya-tanya. Rumah Makan Handayani, Ayam Bakar Malioboro, sampai searching ke cafe-cafe yang bisa nerima acara syukuran orang banyak dengan budget yang kami punya. Semua price list dikumpulkan dan kami memutuskan memilih di Primarasa Restaurant yang berada di jalan Manyar Kertoarjo karena dekat dengan rumah. Kami sangat terbantu dengan mbak Chusnul (mbak yang melayani kami waktu itu) yang mengerti maksud keinginan kami dan kooperatif memberikan masukan kepada kami. Hanya dengan budget 15 juta kurang sedikit, kami bisa memesan paket makanan enak untuk tamu-tamu kami tanpa dekorasi namun tetap pantas dipandang dan free meja kursi untuk tempat souvenir dan juga sound system. Alhamdulillah tangan Allah benar-benar membantu kami.

Untuk baju pengantin bagaimana? Alhamdulillah lagi Allah membantu kami lewat tangan tante saya yang bekerja sebagai Wedding Organizer di Trenggalek. Kami mendapatkan sewa baju pengantin pada saat akad dan acara di Primarasa gratis. 2 sepasang baju pengantin semuanya bagus-bagus diluar ekspetasi saya yang awalnya ingin memakai dress 'biasa' saja agar bisa keliling menghampiri tamu. Oleh tante Nur (pemilik An-Nur Wedding Organizer) dan beberapa saudara sesepuh saya malah dinasehati begini: "Buat acara sekali seumur hidup mbak. Gak apa-apa pakai baju yang ini ya?", sambil menunjuk gaun pernikahan yang ada ekornya. Karena saya kalah suara, ya sudah saya manut. Tante Nur menyiapkan dress pengantin sepasang warna putih kombinasi emas untuk akad dan dress pengantin warna abu-abu kombinasi pink untuk acara di Primarasa.



Sewa photographer? Enggak. Saya sangat beruntung punya sepupu yang hobi foto-foto pakai kamera SLR-nya. Semua perlengkapan kamera pakai punya dia, jadi tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk menyewa. Hihihi alhamdulillah banget.


Hasil fotonya biasa saja? Tidak masalah. Yang penting kami punya kenangan manis dalam fotonya. Untuk masalah edit dan cetaknya itu mudah karena saya juga bisa edit foto karena suka banget ngotak-ngatik Photoshop. Jadi tidak perlu lagi menggunakan jasa editor hehe.

Souvenirnya bagaimana? Untuk acara beginian pasti butuh budget yang lumayan untuk urusan souvenir. Oleh karena itu kami memutuskan waktu itu tidak perlu menggunakan souvenir dan para undangan tidak perlu menulis buku tamu. Jadi para undangan tidak perlu repot-repot juga memberi 'sangu' untuk kami karena memang niatnya kami menyelenggarakan syukuran, bukan pesta yang mengharapkan lainnya. Pernyataan kami ini langsung disanggah oleh tante Wiwik yang mengatakan, "Enggak bisa mas (bapak saya), mbak (saya). Tante dulu pernah mengadakan acara seperti itu tapi malah kerepotan untuk menyimpan amplopnya. Meskipun sudah dijelaskan kalau hanya syukuran biasa, pasti masih banyak orang yang ngasih amplop. Amplopnya malah kececeran kemana-mana gak ketata. Mending disiapkan aja itu kotak uangnya (apa sih namanya lupa..)". Saya dan bapak saling bertatapan meminta pendapat. Bapak langsung berkomentar, "Kalau ada kotak uang, berarti harus ada souvenir, dek Wik." Dan jawaban selanjutnya tante Wiwik membuat kami sangat terkejut: "Iya gak apa-apa. Nanti tante yang nyiapkan dan jaga souvenir sama buku tamunya." Kami melongo. Entah harus komentar apa. Begitu banyak Allah menitipkan malaikat ditengah-tengah kami yang siap membantu tanpa balasan. Kami benar-benar sangat terharu.

Souvenir dihandle tante Wiwik. Baju pengantin dihandle tante Nur. Foto dihandle oleh mas Adi (sepupu). Jadi kami berdua cuma mempersiapkan biaya untuk mahar, cincin, biaya KUA dan makan. Total semua hampir 17 juta kurang sedikit. Alhamdulillah walaupun harus kejar waktu dan gotong royong dengan para saudara, acara pernikahan kami yang berlangsung pada tanggal 9 September 2017 kemarin dapat berjalan dengan lancar. SAH! Kami sudah tidak perlu canggung lagi berjalan berduaan sampai malam karena Allah sudah meridhoi :)

Jadi, menikah tanpa resepsi dengan budget minim bisa? Bisa banget, asal harus kuat mental dan telinga untuk menjelaskan ke orang lain apa maksud dari acara sederhana itu. Tidak perlu ragu dan malu menjadi 'beda' daripada yang lain. Yang penting niat baik, insyaAllah Allah akan selalu membantu hambaNya disegala cara.

25 April 2017

Batam

2 Comments

Batam? Sebagai anak rumahan, saya sama sekali tidak pernah terpikir pun tentang kota di salah satu Kepulauan Riau itu. Yang terpikirkan cuma satu, jauh. Paling jauh pergi pun ke Jakarta dan Bali karena liburan lulusan sekolah dan silahturahmi ke saudara.
Ketika lulus kuliah dan mendapat jackpot kerja di Batam, apa yang ada di pikiran anak rumahan ini? Antara senang dan takut, secara dulu sama sekali enggak pernah pergi dari rumah sejauh ini haha. Berbekal petuah-petuah dari bapak, akhirnya berani nerima tantangan itu. And well finally, 2 years i has been there. Banyak sekali cerita yang ingin saya bagikan sewaktu disana, tetapi terkalahkan dengan rempongnya membagi waktu antara kerja dan me time. Sekalinya ada waktu buat sendiri malah dibuat shopping, haha *dasar wanita*.

Ya sudahlah.. Waktu memang sudah beranjak ke tahun 2017, dan saya sudah kembali ke rumah. Tidak ada yang salah dengan terlambat untuk berbagi kan? :)

Batam sebenarnya merupakan kota yang sangat sibuk. Hampir semua penduduknya adalah pendatang yang datang ke Batam karena bekerja disana. Banyak wilayah Batam merupakan kawasan industri. Tetapi meskipun demikian, banyak kawasan Batam yang masih asri dengan hutannya yang lebat. Contohnya di kawasan Kabil, tempat saya bekerja dulu. Untuk menuju sana, kami harus melewati jalanan yang diapit oleh hutan kanan-kirinya. Disekitar jalanan Batam Centre juga masih ada kawasan hutan. Agak ngeri emang kalau pulang kerja malam. Kenapa? Satu, kalau pulang kerja diatas jam normal enggak bisa diantar oleh bis karyawan, sehingga harus cari tebengan pulang, yaitu naik motor. Kedua, jika sudah jam delapan malam kawasan yang saya bilang diapit hutan kanan-kirinya itu sepi sehingga banyak orang yang melewati sana memilih mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Banyak sekali penduduk Batam itu (menurut saya) kalau nyetir suka ngawur, sehingga kita sendiri harus hati-hati jaga jarak untuk menghindari kecelakaan. Nah, di daerah tersebut sudah sering terjadi kecelakaan. Ada yang selamat, ada juga yang meninggal. Ketiga, banyak yang bilang daerah tersebut sering dilewati roh halus. Pak manager saya pernah cerita kalau pernah melewati daerah itu dan ditampakkan dengan 'pemandangan yang beda dari biasanya'. Karena alasan itulah, saya jarang sekali mengambil lembur. Lebih baik mencegah daripada mengobati luka trauma kan? Hehe.

Selain kota yang sibuk, Batam punya sarana hiburan yang banyak. Mulai dari mall sampai tempat makan yang enak. Yang saya sukai adalah tiap kali ada tamu yang berkunjung, bos selalu mengajak ke rumah makan seafood langganan. Yang dipesan makanannya selalu mewah-mewah. Kepiting lada hitam, lobster, cumi, kepiting asam manis, dan tentunya, gonggong. Ada yang tahu gonggong? Gonggong bentuknya seperti siput, namun rasanya seperti kerang. Makanan ini enak banget dicocol dengan saus pedas yang agak encer. Saya enggak punya dokumentasinya di hp, jadi saya share gambar dari google saja ya.


Ini beneran enak dan nagihin buat dicamil. Cara makannya cukup ambil daging gonggong dengan tusuk lidi yang telah disiapkan dan cocol ke saus pedasnya. Makan ini jangan sampai khilaf ya, karena bisa langsung bikin kolestrol naik. Teman saya pernah keterusan makan ini, beberapa jam kemudian langsung pusing, haha.

Di tempat makan seafood ini, selain makanannya yang yummiiiihh, ada minumannya yang bikin saya kangen juga. Namanya es Longan. Es longan ini merupakan es kelengkeng. Biasanya disajikan di gelas besar dengan beberapa kelengkeng kupas. Seger manis gitu rasanya.


dok. pribadi

Pengen piknik? Batam punya pantai cantik yang tak terhitung jumlahnya. Saya sudah pernah share bagaimana cantiknya pantai Vio-Vio. Masih ada pantai cantik lainnya di sekitar jembatan Barelang sana yang wajib dikunjungi. Yang pernah saya kunjungi adalah Pantai Mirota.


dok. pribadi

Lautnya biru dan pasirnya bersih. Masih alami banget. Bahkan kalau mau berkunjung ke beberapa pantai yang belum dikelola harus hati-hati karena jalan masuknya yang masih curam. Sangat instagram-able buat panen like dan follower, haha.

Kalau mau ke pantai yang agak jauh lagi, boleh main ke Tanjung Pinang. Saya selama dua tahun di Batam baru sekali main ke Tanjung Pinang. Makanan yang saya kangenin disana adalah otak-otaknya. Murah meriah dan enak. Cuma seribu perbungkusnya.





dok. pribadi

Untuk tempat wisata, Batam punya Ocarina. Ocarina adalah tempat wisata yang menyediakan banyak pilihan untuk menghabiskan waktu dengan teman atau keluarga sekalipun. Bisa naik sepeda kayuh rame-rame, bisa naik bianglala, atau sekedar nongkrong cantik sambil foto-foto juga boleh. Bahkan terkadang tiap minggu tertentu, mereka mengadakan event, salah satunya foam party.







 dok. pribadi

Sudah, itu saja? Ada lagi.. Beberapa kali pulang kerja selalu dapat pemandangan langit yang bagus. Yang awannya berjejer rapi atau melihat sunset. Ha, sunset? Iya, hanya di Batam kamu bisa melihat sunset tanpa perlu harus ke pantai.



dok. pribadi

How interesting, right? Kalau di Jawa sangat susah kali nemu pemandangan langit seperti di Batam karena sudah penuh dengan gedung yang tinggi-tinggi :)

8 April 2017

Salah Jurusan (?)

6 Comments

Apa yang sudah saya lewati empat bulan ini setelah kembali ke rumah? Menjadi pengangguran. Mungkin lebih tepatnya pengangguran yang menghasilkan duit dari rumah. Hehe alhamdulillah berkah dari berkat meneruskan bisnis online, nganggur-nganggur gini tetap ada yang transferin duit. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak waktu kerja, tapi tetap harus bersyukur. Nikmat Allah tidak hanya lewat duit saja kan? :)

Kembali ke rumah memang menyenangkan. Melanjutkan hidup sebagai keluarga, bukan sebagai perantau lagi di kota orang. Tapi enggak enaknya, kalau mau keluar hang out, selalu mikir berkali-kali. Duitnya cukup nggak? Kalau ngambil duit jualan, modal jualan ngambil darimana lagi? Secara... sekarang sudah nggak ada investor tiap bulan, haha. Mau jajan mikir itu lagi. Lihat online shop mikir itu lagi. Jadi kerjaanya di rumah muluuuu. Kembali seperti kebiasaan lama. Gak apa-apa, memang sudah waktunya hemat.. dimana dulunya gampang banget ngeluarin duit di ATM ^^ *alasan positif *iyain aja deh, wkwk.

Alhasil, banyak waktu luang yang bisa saya kerjakan. Mulai dari membantu membersihkan rumah, menjaga adik-adik yang masih balita, menulis, membaca, sampai promosi dagangan. Mulai bisa mengatur waktu lagi plan schedule postingan dagangan di jam-jam tertentu yang banyak pembacanya. Mulai bisa berpikir tenang supaya postingan bisa asyik dan menarik dibaca pembaca. Beda sama dulu waktu kerja di kantoran.. Mau update postingan dagangan aja curi-curi waktu, hehe. Sekali lagi saya bersyukur. Dan sekali lagi saya merasa Allah mengatur sesuatu untuk saya.

Banyak perbedaan yang terjadi setelah kembali ke rumah. Selain gak dapat investor tetap tiap bulan di ATM, jam tidur malam pun ikut berubah. Kalau dulu di Batam, jam tidur paling awal jam delapan. Paling mualaaam jam sepuluh. Sekarang jam tidur malam adalah jam setengah dua belas. Banyak kegiatan yang memaksa saya kudu melek sampai saya benar-benar ngantuk di jam tersebut. Kegiatannya gak mengeluarkan tenaga, tapi menguras otak, secara banyak banget yang saya pikirkan. Buka browser, lihat berita update yang lagi booming. Buka instagram, lihat semua follower dan list DM, barangkali bisa nemu calon customer baru, hihi. Lihat follower, banyak banget yang jual produk sejenis.. Mulai mikir lagi apa yang harus saya lakukan agar pemasukan bisa nambah. Scroll-scroll lagi, barangkali bisa nemu supplier baru. Lihat path, scroll-scroll, lalu closed. Terkadang nyambi chat sama reseller, calon pembeli baru, produsen, dan Chandra. Sampai akhirnya lelah, nyoba memejamkan mata, eh malah kepikiran hal lain.

"Apakah sudah benar apa yang saya lewati sampai sini?"

Ingat-ingat omongan teman yang kenal sewaktu interview dan main ke rumah mau lihat dagangan. Dia bilang, "Seharusnya kamu kuliah di komunikasi, ras. Bukan di Teknik Informatika." Waktu itu saya cuma tertawa menanggapi omongannya. Dan sekarang, saya malah memikirkannya berkali-kali.

Hal semacam itu ternyata tidak terjadi pada saya saja. Sekarang, ada teman dekat sewaktu kuliah dulu banting setir sekolah desain. Entah mungkin karena hobinya dulu mencuat lagi setelah bingung dengan apa yang sudah terjadi setelah sempat bekerja di bank. 

Kalau disuruh memilih jurusan, sebenarnya dulu sewaktu lulus SMK, pingin banget bisa kuliah di Sastra Indonesia. Dimana kalau mau kuliah di Surabaya ada perguruan tinggi yang memfasilitasi juga. Gak perlu harus jauh ke Malang. Tapi karena dorongan orang tua dan waktu itu saya belum punya rencana panjang, akhirnya saya nurut saja apa kata orang tua. Disamping saya juga sudah berpikiran negatif kalau lulusan SMK susah untuk ikut SNMPTN.

"Apa saya salah ambil jurusan?"

Dilihat dari hobi saya yang lebih suka kearah visual dan imajinasi daripada ilmu coding dan matematika. Dilihat dari pekerjaan pertama saya sebagai marketing. Dilihat dari penunjang ekonomi saya saat ini (apa siiih.... haha) sebagai pebisnis online. Apa salah yang saya pilih?

Suatu ketika saya komen di insta story teman yang saya bicarakan diatas sebelumnya, dimana dia mendatangi show tempat dia sekolah desain sekarang dengan caption doanya ingin bisa ikut sebagai salah satu desainernya. Komen saya waktu itu, "aamiin", dan dia membalas "perjuangan masih panjang". Saya reflek membalas komennya, "Belajar gak akan pernah ada habisnya, nduk. Dimana-mana dan setiap saat kita diwajibkan untuk terus belajar." Sampai komenan-komenan kami mengarah sama pilihan kami kuliah di jurusan itu, dan saya tanpa sadar berkomentar "Ga apa-apa, nduk. Gak ada yang sia-sia kok. Kita masuk TI pun gak salah. Aku kerja di bagian marketing pun gak salah. Semuanya uda diatur baik-baik sama Allah." Sampai saat ini saya sering mikir, apa saya sadar waktu itu nulis begitu?

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, mungkin benar Allah merancang jalan saya dan teman saya seperti ini. Mungkin kalau saya tidak kuliah disana, saya tidak bertemu dengan teman-teman sebaik mereka. Mungkin kalau saya tidak kuliah disana, saya tidak bertemu Chandra. Mungkin kalau saya tidak kuliah disana, saya tidak akan merasakan bahagianya hidup merantau.

"Allah lebih mengetahui segalanya." Itu adalah komen terakhir darinya yang tidak saya balas. Saya membalasnya dengan senyuman sambil mengangguk menyetujui pernyataannya.

20 Maret 2017

Di Malam Maret

0 Comments

Ini soal waktu. Soal kesempatan. Dan soal "bagaimana".

Di suatu ketika, seorang ayah mengajak ngobrol anaknya dalam perjalanan pulang dari luar kota. Hari itu waktu berputar sangat lambat dan perjalanan masih sangat jauh untuk menuju rumah. Mendengarkan berita di salah satu stasiun radio tidak mengobati kantuk yang makin menjadi-jadi. Berbagai obrolan mengalir hingga pada suatu titik habis cerita dan bingung membahas apa.

"Ayah kasihan sama om..."
"Kasihan kenapa, Yah?"
"Om bilang pada ayah. Katanya iri dengan ayah yang bisa ngeladeni kakek."

Sang anak cuma tersenyum. Om tinggal di luar kota dan jauh dari kakek. Setahun sekali om pulang kampung mengunjungi kakek bersama keluarga besarnya. Kakek sering sakit dikarenakan usianya yang semakin tua.

"Ayah cuma bilang.. Kalau mau memperhatikan kakek, luangkan waktunya untuk telepon seminggu sekali ke rumah. Ya kakak tahu kan, om itu jarang sekali nelpon kakek kalau tidak ayah yang mengingatkan."
"Ya mungkin om sibuk, Yah."
"Masa sibuk sampai tidak pernah ada waktu untuk telepon bapaknya? Padahal seorang bapak itu ya kak, mendengar suara anak dan cucunya saja sudah senang lho. Itu obat yang susah dicari.."
"Ya mungkin om lupa, Yah."
"Ayah pernah kirim Whatsapp ngasih kabar soal kakek. Balasnya baru besoknya lho, kak. Masa om gak megang hape."
"Ya bisa jadi, Yah. Kan tiap orang punya alasan yang kita sendiri tidak tahu..."

Hening. Suara penyiar radio menggema isi mobil. Kakak dan ayah saling ribut dengan pikirannya masing-masing.

"Ayah pernah chat om kalau kakek butuh uang buat berobat. Om lagi gak ada uang dan bilang adanya uang pakai credit card. Kakek sampai bilang nanti akan dibayar cicil tiap bulan, kak. Gimana menurut kakak seperti itu?"

Kakak tersenyum. Matanya masih menatap jauh ke jalanan. Telinganya masih awas mendengarkan cerita ayahnya.

"Menurut kakak nih, Yah, case-nya om ini masih belum bisa bagi waktu dan masalah antara keluarga baru dan keluarganya. Anaknya om kan masih kecil-kecil. Mungkin masih kepikiran buat cicilan ini, cicilan itu, biaya sekolah, biaya lainnya, sehingga belum bisa menyisihkan uang buat biaya kakek. Itu mungkin yang belum dipikirkan om."
"Iya, ayah tau, kak. Ayah juga sadar itu..."

Hening. Dua menit terlewat dan suara penyiar tertawa membuyarkan pikiran masing-masing.

"Maka dari itu, kak. Jika sudah menikah harus bisa bagi rata antara keluarga istri dan keluarga kamu. Gak bisa berat disalah satu. Harus imbang dikeduanya."
"Iya, Yah."

Obrolan selesai diikuti dengan lagu yang barusan diputar oleh penyiar.

Malam semakin malam. Waktu semakin memutar dalam pikiran seorang anak. Bagaimana jika kesempatan tak pernah datang memberikannya waktu tentang bagaimana memberikan arti adil untuk orang lain?

Ini bukan tentang bagaimana cara mengelola uang dengan pembagian-pembagiannya. Ini tentang soal waktu, kesempatan, dan "bagaimana".

24 November 2016

Farewell Party PART 2 - Masjid Jabar Arafah Batam

0 Comments

Halo semuanya. Alhamdulillah setelah satu bulan lebih, akhirnya bisa posting blog lagi. Hahaha lama banget ya. Maafkan semuanya :'))

Melanjutkan postinganku sebelumnya, kali ini saya mau bercerita tentang perjalanan selanjutnya, yaitu Masjid Jabal Arafah. Masjid ini terletak di daerah Nagoya. Dekat banget sama Nagoya Hill Mall dan Lucky Plaza.


pict by google


Letak masjid ini agak terpencil. Jalan masuk kedalamnya pun kecil, sehingga mobil susah untuk masuk dan keluar, harus bergantian. Jalanannya menanjak. Untung ada tukang parkir, sehingga siapapun yang kesana tidak perlu kerepotan parkir kendaraannya.

Meskipun masjid ini dilokasi kecil, namun penataannya bener-bener bagus. Sebelum masuk tempat wudhu, pengunjung dikasih pemandangan air mancur kecil. Di tempat sholat, ada lobby yang langsung memperlihatkan pemandangan langit. Pokoknya kalau kesana, mata dan hati bener-bener dimanja.


taman kecil di daerah dekat tempat wudhu (pict by google)




foto diambil sekitar 18.30 (setelah maghrib)



abaikan ekspresi saya ya. yang penting bakcgroundnya kece


Semua foto tersebut diambil dari lobby tempat sholat. Saya lupa-lupa ingat itu di lantai 2 atau 3. Kalau mau ambil foto lebih bagus lagi sambil lihat langit lebih dekat, coba aja naik ke menara. Dengan biaya sukarela (kalau enggak salah, biayanya Rp 5.000), kita sudah disuguhkan pemandangan yang beda dari biasanya. Saya belum pernah naik ke menaranya sih. Cuma dengar-dengar dari cerita teman, kalau mau mengabadikan foto disana gak bakalan kecewa.

Naaaah, PR saya sudah selesai ya. Semoga next post gak terlalu lama lagi hihi.





-Laras, yang sedang merindukan tanah Jawa-