Pages

18 Juli 2016

Sepotong surat (yang hilang)

0 Comments

Saya pernah jatuh cinta berkali-kali pada seseorang. Orang itu tidak pernah sekalipun membuat saya kecewa ataupun marah. Semua yang dilakukannya sempurna. Itulah mengapa dia adalah cinta pertama saya.

Kemudian takdir berpindah janji. Membawa cinta baru diantara kepanikan hidup. Yang betah menjadi enggan, yang rindu menjadi terlupakan. Membuat saya mengasihani diri sendiri lebih sulit.

Dia itu bernama bapak. Tetap bapak sekalipun cintanya berakar-akar. Tetap bapak meskipun kenangan kami mulai luntur.

Bapak, ada banyak pertanyaan yang ingin saya sampaikan. Namun itu semua tertumpuk malu dengan bulir-bulir senyummu. Iya, saya takkan rakus meminta waktu. Saya cuma butuh satu malam untuk melalui semuanya kembali. Karena dengan adanya cintamu, saya takkan pernah takut berlebihan (seperti sekarang).

30 Mei 2016

AKU

3 Comments

Aku memang begini. Terlalu mengkhawatirkan hal yang tidak pasti, 'melepaskan', lalu kembali lagi ke ritme semula: percaya pada yang tidak pasti.

Aku memang tidak berujung. Selalu ada kalimat "pasti bisa" walau aku tak pernah tahu dimana letak ke-bisa-anku.

Niscaya, aku tak pernah tahu dimana letak bahagiaku. Semuanya tumbuh-mekar-punah-lalu tumbuh lagi dengan ketukan yang berbeda. Berdenyut tanpa rima. Ketemu apabila tertangkap dalam satu pukulan. Clap! Ibaratnya bagaikan kedua tangan yang bersemangat pukau menggandeng kemenangan. 

Aku tak pernah menandainya.. Malahan waktu yang sering mengejutkan.

25 Mei 2016

Pertanyaan hari ini

0 Comments

Polemiknya, orang sekarang pintar berubah-berubah. Sebentar-bentar jadi baik, kemudian setengah jam kemudian tiba-tiba marah tak terkendali. Suatu hari bak peri yang selalu mendengarkan semua keluh kesahmu, eh gak tahunya besoknya semua masalahmu tersebar ke seluruh penjuru dunia. Sebenarnya, dunia sudah teracuni makanan apa sih? Atau orang-orangnya yang sudah pintar 'bersembunyi' seperti bunglon?

18 Mei 2016

Semoga

2 Comments

Entah aku menamakan ini apa. Seperti cairan biru yang meledak dalam kerongkongan dan mendinginkan suatu ruang yang disebut hati. Semenit kemudian perasaan dingin menyebar. Bahkan rasanya ingin muntah dalam teriakan. Mataku terus berbinar membayangkannya, melebihi menunggu pengumuman hasil interview kerja.

Aku tak tahu ingin bercerita pada siapa, karena ini masih sebuah rencana. Rencana besar mungkin. Rencana yang bahkan tiap malam mendengar suaranya membuatku ingin terus menari bersama angin. Tentu aku excited banget dengan ini. Membayangkannya saja sudah ingin membuatku pecah menabrakkan diri ke pelangi. Biar semuanya berbias dengan warna-warna bahagianya. Oh mungkin aku terlalu egois merasakannya sendiri? Memang jatuh cinta kadang membuat diri sendiri lebih egois.

Semoga. Dengan apa yang namanya rencana itu akan diberkahi oleh semesta dan penciptaNya. Walau harus dengan cara sederhana mengekspresikannya. Walau mungkin terlihat meniru cara teman yang mendahului menjalankannya -padahal kami sudah sepakat dan sepadan memilih itu sebelum memutuskan bekerja jauh (read: LDR). Kami hanya minta yang terbaik.

18 April 2016

NGALAM

7 Comments

Malang...
Meskipun sudah berkelana jauuuuh ke Batam selama hampir satu tahun empat bulan, yang namanya kota ini enggak pernah terlupakan. Makanannya, cafe-cafenya, jajanannya, hawa dinginnya, tempat wisatanya, semuanya bikin kangen! Disana juga semua kenangan bermuasal. Punya teman baik, punya tempat kuliah enak, punya kosan nyaman, punya cerita menghemat uang buat beli hape baru, dan lain-lain. Semuanya mengesankan!

Kadang, sering homesick pengen main ke Malang lagi cuma buat jalan-jalan dan mencicipi cafe-cafe barunya yang semakin banyak. Pengen ke car free day yang tiap minggu selalu menyesakkan jalan ijen cuma buat makan nasi pecel langganan yang rasanya belum ada yang sama di Batam -meskipun banyak orang Jawa yang tinggal di Batam, belum nemu rasa nasi pecel yang maknyus kayak di Jawa (suwediiih). Pengen makan bakso prima, bakso langganan deket kampus dan kosan -bakso yang banyak mecinnya tapi mahasiswa selalu suka sama bakso ini. Pengen makan cilok depan Malang Town Square -yang antriannya selalu nutup gang masuk dekat Universitas Malang. Pengen minum es campur/teler BNI Soekarno Hatta -yang selalu bikin mataku berbinar-binar karena porsi buah nangkanya selalu banyak. Pengen minum es Dempo -yang kalau mau makan disana selalu ngantri dan gantian sama pengunjung lainnya. Eh, kok makanan semua ya yang aku kangenin? Hahaha.

Malang, apa kabarmu kini? Sudah sekali aku melewatkan event Malang Tempo Doloe. Padahal pengen banget bisa kesana buat nostalgia pernah ngisi tari di event itu sama teman kuliah. Belum juga ngincipin cafe yang disana, cafe yang disitu dan disana-sana sudah buka dengan konsep cafe yang apik. Belum juga main ke Museum Angkut Batu, Jatim Park group sudah buka Museum Bagong dan wahana wisata lainnya.

Badanku di Batam, tapi pikiran dan hati masih sesak di Jawa Timur...


Ah, semoga impian membangun 'kebahagiaan' disana diridhoi sama Allah. Aamiin..

29 Januari 2016

Rindu

4 Comments

Masalahnya, rindu semakin pekat tak beralasan. Membuat mendung di mega Awan semakin bergemuruh. Bias istrinya semakin jelas. Jarak diantaranya tinggal beberapa langkah saja. Tangannya yang lembut berusaha meraih rambut-rambut halus istrinya, namun percobaan yang sudah ke duapuluh itu menunjukkan hasil yang sama: gagal. 

Awan merindukan istrinya, Dewi. Awan merindukan masakan Dewi. Awan merindukan pelukan Dewi. Awan merindukan tawa bahagia Dewi -berhari-hari Awan melihat Dewi menangis sambil memperhatikan foto pernikahan mereka. Awan merindukan ciuman manja Dewi. Dan Awan merindukan semua dari Dewi.

"Seandainya waktu itu tidak pernah aku ajak bercanda...." desah Awan.

"Seandainya kamu masih ada disini, mas..." ujar Dewi ditengah isak tangisnya.


Seminggu yang lalu adalah ruang waktu yang bahagia untuk mereka menyatukan jari manis dengan cincin yang sama. Seminggu yang lalu adalah cerita pertama Awan melihat istrinya tidur dengan cantik disampingnya. Seminggu yang lalu merupakan kabar terindah karena Awan bisa meminta Dewi untuk selalu dimasakkan makanan favoritnya. Dan seminggu adalah keajaiban Tuhan mereka bisa merasakan bahagia bersama.

Yang kemarin, Tuhan mengambil kebahagiaan itu. Awan dijemput dan dipulangkan dengan mobil ambulance hanya raga. Dan Awan kembali dengan kerinduan yang terbungkus.

 Awan mungkin sering bercanda dengan waktu -dan itu acapkali membuat Dewi kesal karena hobi suaminya yang tak pernah berubah-, tetapi Awan tak pernah mengajak bermain dengan janji.

"Aku datang membawa rindu untukmu, sayang. Aku berusaha disampingmu setiap kamu pudar. Itu janjiku kan, sayang? Meski hanya bias yang membawaku kesini...."

Awan memeluk istrinya dalam-dalam dengan angin. Tiupan rindu itu mengawang dan memecah titik hujan Dewi.

18 Januari 2016

Rinai, Hujan

2 Comments

Sekalinya pun Rinai tahu, yang terjadi adalah dua hal: pertama, semuanya berakhir dan menjadi masa lalu; kedua, semuanya kembali dan mengulang lagi kesedihan, entah menjadi kesedihan yang baru atau kesedihan yang lama.

Rinai bosan melamat angka dalam angka di kalender. Menghitung spasi dan kecepatan detik waktu memakan tiap angkanya. Hari berlari dalam persimpangan hidupnya. Tanpa permisi. Tak membiarkan Rinai berkata "pause" dan berpikir langkah kedepannya harus seperti apa. Umurnya semakin bertambah. Kawanan rekat mulai menyantumkan pertanyaan yang membuatnya semakin mangu, "Kapan kau menikah?".

Rinai berusaha tenang melaluinya. Rinai berusaha mengikuti alur melodi hatinya meskipun kadang-kadang ia sering mengalah karena tak sesuai. Ia berpikir, "Dia yang akan membimbingku. Aku akan ikut pada apapun pilihannya.". Tapi siapa sangka roda jaman semakin menggilas perasaan. Pilihannya sering berganti dan selalu menggantung, membuat Rinai semakin kalu untuk memandang masa depan karena Rinai benci hidup tanpa rencana yang mapan.

Sepuluh tahun lalu ia menemukannya...
Sepuluh tahun mereka melaluinya...
Sepuluh tahun ia bersabar pada apapun pilihannya...
Sepuluh tahun mereka mulai menemukan banyak perbedaan...

Rinai bosan menunggu Surya. Yang ada, selalu, Rinai bertemu Hujan. Membuat kolam-kolam kecil semakin penuh. Selalu.