Pages

25 April 2017

Batam

0 Comments

Batam? Sebagai anak rumahan, saya sama sekali tidak pernah terpikir pun tentang kota di salah satu Kepulauan Riau itu. Yang terpikirkan cuma satu, jauh. Paling jauh pergi pun ke Jakarta dan Bali karena liburan lulusan sekolah dan silahturahmi ke saudara.
Ketika lulus kuliah dan mendapat jackpot kerja di Batam, apa yang ada di pikiran anak rumahan ini? Antara senang dan takut, secara dulu sama sekali enggak pernah pergi dari rumah sejauh ini haha. Berbekal petuah-petuah dari bapak, akhirnya berani nerima tantangan itu. And well finally, 2 years i has been there. Banyak sekali cerita yang ingin saya bagikan sewaktu disana, tetapi terkalahkan dengan rempongnya membagi waktu antara kerja dan me time. Sekalinya ada waktu buat sendiri malah dibuat shopping, haha *dasar wanita*.

Ya sudahlah.. Waktu memang sudah beranjak ke tahun 2017, dan saya sudah kembali ke rumah. Tidak ada yang salah dengan terlambat untuk berbagi kan? :)

Batam sebenarnya merupakan kota yang sangat sibuk. Hampir semua penduduknya adalah pendatang yang datang ke Batam karena bekerja disana. Banyak wilayah Batam merupakan kawasan industri. Tetapi meskipun demikian, banyak kawasan Batam yang masih asri dengan hutannya yang lebat. Contohnya di kawasan Kabil, tempat saya bekerja dulu. Untuk menuju sana, kami harus melewati jalanan yang diapit oleh hutan kanan-kirinya. Disekitar jalanan Batam Centre juga masih ada kawasan hutan. Agak ngeri emang kalau pulang kerja malam. Kenapa? Satu, kalau pulang kerja diatas jam normal enggak bisa diantar oleh bis karyawan, sehingga harus cari tebengan pulang, yaitu naik motor. Kedua, jika sudah jam delapan malam kawasan yang saya bilang diapit hutan kanan-kirinya itu sepi sehingga banyak orang yang melewati sana memilih mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Banyak sekali penduduk Batam itu (menurut saya) kalau nyetir suka ngawur, sehingga kita sendiri harus hati-hati jaga jarak untuk menghindari kecelakaan. Nah, di daerah tersebut sudah sering terjadi kecelakaan. Ada yang selamat, ada juga yang meninggal. Ketiga, banyak yang bilang daerah tersebut sering dilewati roh halus. Pak manager saya pernah cerita kalau pernah melewati daerah itu dan ditampakkan dengan 'pemandangan yang beda dari biasanya'. Karena alasan itulah, saya jarang sekali mengambil lembur. Lebih baik mencegah daripada mengobati luka trauma kan? Hehe.

Selain kota yang sibuk, Batam punya sarana hiburan yang banyak. Mulai dari mall sampai tempat makan yang enak. Yang saya sukai adalah tiap kali ada tamu yang berkunjung, bos selalu mengajak ke rumah makan seafood langganan. Yang dipesan makanannya selalu mewah-mewah. Kepiting lada hitam, lobster, cumi, kepiting asam manis, dan tentunya, gonggong. Ada yang tahu gonggong? Gonggong bentuknya seperti siput, namun rasanya seperti kerang. Makanan ini enak banget dicocol dengan saus pedas yang agak encer. Saya enggak punya dokumentasinya di hp, jadi saya share gambar dari google saja ya.


Ini beneran enak dan nagihin buat dicamil. Cara makannya cukup ambil daging gonggong dengan tusuk lidi yang telah disiapkan dan cocol ke saus pedasnya. Makan ini jangan sampai khilaf ya, karena bisa langsung bikin kolestrol naik. Teman saya pernah keterusan makan ini, beberapa jam kemudian langsung pusing, haha.

Di tempat makan seafood ini, selain makanannya yang yummiiiihh, ada minumannya yang bikin saya kangen juga. Namanya es Longan. Es longan ini merupakan es kelengkeng. Biasanya disajikan di gelas besar dengan beberapa kelengkeng kupas. Seger manis gitu rasanya.


dok. pribadi

Pengen piknik? Batam punya pantai cantik yang tak terhitung jumlahnya. Saya sudah pernah share bagaimana cantiknya pantai Vio-Vio. Masih ada pantai cantik lainnya di sekitar jembatan Barelang sana yang wajib dikunjungi. Yang pernah saya kunjungi adalah Pantai Mirota.


dok. pribadi

Lautnya biru dan pasirnya bersih. Masih alami banget. Bahkan kalau mau berkunjung ke beberapa pantai yang belum dikelola harus hati-hati karena jalan masuknya yang masih curam. Sangat instagram-able buat panen like dan follower, haha.

Kalau mau ke pantai yang agak jauh lagi, boleh main ke Tanjung Pinang. Saya selama dua tahun di Batam baru sekali main ke Tanjung Pinang. Makanan yang saya kangenin disana adalah otak-otaknya. Murah meriah dan enak. Cuma seribu perbungkusnya.





dok. pribadi

Untuk tempat wisata, Batam punya Ocarina. Ocarina adalah tempat wisata yang menyediakan banyak pilihan untuk menghabiskan waktu dengan teman atau keluarga sekalipun. Bisa naik sepeda kayuh rame-rame, bisa naik bianglala, atau sekedar nongkrong cantik sambil foto-foto juga boleh. Bahkan terkadang tiap minggu tertentu, mereka mengadakan event, salah satunya foam party.







 dok. pribadi

Sudah, itu saja? Ada lagi.. Beberapa kali pulang kerja selalu dapat pemandangan langit yang bagus. Yang awannya berjejer rapi atau melihat sunset. Ha, sunset? Iya, hanya di Batam kamu bisa melihat sunset tanpa perlu harus ke pantai.



dok. pribadi

How interesting, right? Kalau di Jawa sangat susah kali nemu pemandangan langit seperti di Batam karena sudah penuh dengan gedung yang tinggi-tinggi :)

8 April 2017

Salah Jurusan (?)

6 Comments

Apa yang sudah saya lewati empat bulan ini setelah kembali ke rumah? Menjadi pengangguran. Mungkin lebih tepatnya pengangguran yang menghasilkan duit dari rumah. Hehe alhamdulillah berkah dari berkat meneruskan bisnis online, nganggur-nganggur gini tetap ada yang transferin duit. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak waktu kerja, tapi tetap harus bersyukur. Nikmat Allah tidak hanya lewat duit saja kan? :)

Kembali ke rumah memang menyenangkan. Melanjutkan hidup sebagai keluarga, bukan sebagai perantau lagi di kota orang. Tapi enggak enaknya, kalau mau keluar hang out, selalu mikir berkali-kali. Duitnya cukup nggak? Kalau ngambil duit jualan, modal jualan ngambil darimana lagi? Secara... sekarang sudah nggak ada investor tiap bulan, haha. Mau jajan mikir itu lagi. Lihat online shop mikir itu lagi. Jadi kerjaanya di rumah muluuuu. Kembali seperti kebiasaan lama. Gak apa-apa, memang sudah waktunya hemat.. dimana dulunya gampang banget ngeluarin duit di ATM ^^ *alasan positif *iyain aja deh, wkwk.

Alhasil, banyak waktu luang yang bisa saya kerjakan. Mulai dari membantu membersihkan rumah, menjaga adik-adik yang masih balita, menulis, membaca, sampai promosi dagangan. Mulai bisa mengatur waktu lagi plan schedule postingan dagangan di jam-jam tertentu yang banyak pembacanya. Mulai bisa berpikir tenang supaya postingan bisa asyik dan menarik dibaca pembaca. Beda sama dulu waktu kerja di kantoran.. Mau update postingan dagangan aja curi-curi waktu, hehe. Sekali lagi saya bersyukur. Dan sekali lagi saya merasa Allah mengatur sesuatu untuk saya.

Banyak perbedaan yang terjadi setelah kembali ke rumah. Selain gak dapat investor tetap tiap bulan di ATM, jam tidur malam pun ikut berubah. Kalau dulu di Batam, jam tidur paling awal jam delapan. Paling mualaaam jam sepuluh. Sekarang jam tidur malam adalah jam setengah dua belas. Banyak kegiatan yang memaksa saya kudu melek sampai saya benar-benar ngantuk di jam tersebut. Kegiatannya gak mengeluarkan tenaga, tapi menguras otak, secara banyak banget yang saya pikirkan. Buka browser, lihat berita update yang lagi booming. Buka instagram, lihat semua follower dan list DM, barangkali bisa nemu calon customer baru, hihi. Lihat follower, banyak banget yang jual produk sejenis.. Mulai mikir lagi apa yang harus saya lakukan agar pemasukan bisa nambah. Scroll-scroll lagi, barangkali bisa nemu supplier baru. Lihat path, scroll-scroll, lalu closed. Terkadang nyambi chat sama reseller, calon pembeli baru, produsen, dan Chandra. Sampai akhirnya lelah, nyoba memejamkan mata, eh malah kepikiran hal lain.

"Apakah sudah benar apa yang saya lewati sampai sini?"

Ingat-ingat omongan teman yang kenal sewaktu interview dan main ke rumah mau lihat dagangan. Dia bilang, "Seharusnya kamu kuliah di komunikasi, ras. Bukan di Teknik Informatika." Waktu itu saya cuma tertawa menanggapi omongannya. Dan sekarang, saya malah memikirkannya berkali-kali.

Hal semacam itu ternyata tidak terjadi pada saya saja. Sekarang, ada teman dekat sewaktu kuliah dulu banting setir sekolah desain. Entah mungkin karena hobinya dulu mencuat lagi setelah bingung dengan apa yang sudah terjadi setelah sempat bekerja di bank. 

Kalau disuruh memilih jurusan, sebenarnya dulu sewaktu lulus SMK, pingin banget bisa kuliah di Sastra Indonesia. Dimana kalau mau kuliah di Surabaya ada perguruan tinggi yang memfasilitasi juga. Gak perlu harus jauh ke Malang. Tapi karena dorongan orang tua dan waktu itu saya belum punya rencana panjang, akhirnya saya nurut saja apa kata orang tua. Disamping saya juga sudah berpikiran negatif kalau lulusan SMK susah untuk ikut SNMPTN.

"Apa saya salah ambil jurusan?"

Dilihat dari hobi saya yang lebih suka kearah visual dan imajinasi daripada ilmu coding dan matematika. Dilihat dari pekerjaan pertama saya sebagai marketing. Dilihat dari penunjang ekonomi saya saat ini (apa siiih.... haha) sebagai pebisnis online. Apa salah yang saya pilih?

Suatu ketika saya komen di insta story teman yang saya bicarakan diatas sebelumnya, dimana dia mendatangi show tempat dia sekolah desain sekarang dengan caption doanya ingin bisa ikut sebagai salah satu desainernya. Komen saya waktu itu, "aamiin", dan dia membalas "perjuangan masih panjang". Saya reflek membalas komennya, "Belajar gak akan pernah ada habisnya, nduk. Dimana-mana dan setiap saat kita diwajibkan untuk terus belajar." Sampai komenan-komenan kami mengarah sama pilihan kami kuliah di jurusan itu, dan saya tanpa sadar berkomentar "Ga apa-apa, nduk. Gak ada yang sia-sia kok. Kita masuk TI pun gak salah. Aku kerja di bagian marketing pun gak salah. Semuanya uda diatur baik-baik sama Allah." Sampai saat ini saya sering mikir, apa saya sadar waktu itu nulis begitu?

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, mungkin benar Allah merancang jalan saya dan teman saya seperti ini. Mungkin kalau saya tidak kuliah disana, saya tidak bertemu dengan teman-teman sebaik mereka. Mungkin kalau saya tidak kuliah disana, saya tidak bertemu Chandra. Mungkin kalau saya tidak kuliah disana, saya tidak akan merasakan bahagianya hidup merantau.

"Allah lebih mengetahui segalanya." Itu adalah komen terakhir darinya yang tidak saya balas. Saya membalasnya dengan senyuman sambil mengangguk menyetujui pernyataannya.