Pages

18 Mei 2016

Semoga

2 Comments

Entah aku menamakan ini apa. Seperti cairan biru yang meledak dalam kerongkongan dan mendinginkan suatu ruang yang disebut hati. Semenit kemudian perasaan dingin menyebar. Bahkan rasanya ingin muntah dalam teriakan. Mataku terus berbinar membayangkannya, melebihi menunggu pengumuman hasil interview kerja.

Aku tak tahu ingin bercerita pada siapa, karena ini masih sebuah rencana. Rencana besar mungkin. Rencana yang bahkan tiap malam mendengar suaranya membuatku ingin terus menari bersama angin. Tentu aku excited banget dengan ini. Membayangkannya saja sudah ingin membuatku pecah menabrakkan diri ke pelangi. Biar semuanya berbias dengan warna-warna bahagianya. Oh mungkin aku terlalu egois merasakannya sendiri? Memang jatuh cinta kadang membuat diri sendiri lebih egois.

Semoga. Dengan apa yang namanya rencana itu akan diberkahi oleh semesta dan penciptaNya. Walau harus dengan cara sederhana mengekspresikannya. Walau mungkin terlihat meniru cara teman yang mendahului menjalankannya -padahal kami sudah sepakat dan sepadan memilih itu sebelum memutuskan bekerja jauh (read: LDR). Kami hanya minta yang terbaik.

18 April 2016

NGALAM

7 Comments

Malang...
Meskipun sudah berkelana jauuuuh ke Batam selama hampir satu tahun empat bulan, yang namanya kota ini enggak pernah terlupakan. Makanannya, cafe-cafenya, jajanannya, hawa dinginnya, tempat wisatanya, semuanya bikin kangen! Disana juga semua kenangan bermuasal. Punya teman baik, punya tempat kuliah enak, punya kosan nyaman, punya cerita menghemat uang buat beli hape baru, dan lain-lain. Semuanya mengesankan!

Kadang, sering homesick pengen main ke Malang lagi cuma buat jalan-jalan dan mencicipi cafe-cafe barunya yang semakin banyak. Pengen ke car free day yang tiap minggu selalu menyesakkan jalan ijen cuma buat makan nasi pecel langganan yang rasanya belum ada yang sama di Batam -meskipun banyak orang Jawa yang tinggal di Batam, belum nemu rasa nasi pecel yang maknyus kayak di Jawa (suwediiih). Pengen makan bakso prima, bakso langganan deket kampus dan kosan -bakso yang banyak mecinnya tapi mahasiswa selalu suka sama bakso ini. Pengen makan cilok depan Malang Town Square -yang antriannya selalu nutup gang masuk dekat Universitas Malang. Pengen minum es campur/teler BNI Soekarno Hatta -yang selalu bikin mataku berbinar-binar karena porsi buah nangkanya selalu banyak. Pengen minum es Dempo -yang kalau mau makan disana selalu ngantri dan gantian sama pengunjung lainnya. Eh, kok makanan semua ya yang aku kangenin? Hahaha.

Malang, apa kabarmu kini? Sudah sekali aku melewatkan event Malang Tempo Doloe. Padahal pengen banget bisa kesana buat nostalgia pernah ngisi tari di event itu sama teman kuliah. Belum juga ngincipin cafe yang disana, cafe yang disitu dan disana-sana sudah buka dengan konsep cafe yang apik. Belum juga main ke Museum Angkut Batu, Jatim Park group sudah buka Museum Bagong dan wahana wisata lainnya.

Badanku di Batam, tapi pikiran dan hati masih sesak di Jawa Timur...


Ah, semoga impian membangun 'kebahagiaan' disana diridhoi sama Allah. Aamiin..

29 Januari 2016

Rindu

4 Comments

Masalahnya, rindu semakin pekat tak beralasan. Membuat mendung di mega Awan semakin bergemuruh. Bias istrinya semakin jelas. Jarak diantaranya tinggal beberapa langkah saja. Tangannya yang lembut berusaha meraih rambut-rambut halus istrinya, namun percobaan yang sudah ke duapuluh itu menunjukkan hasil yang sama: gagal. 

Awan merindukan istrinya, Dewi. Awan merindukan masakan Dewi. Awan merindukan pelukan Dewi. Awan merindukan tawa bahagia Dewi -berhari-hari Awan melihat Dewi menangis sambil memperhatikan foto pernikahan mereka. Awan merindukan ciuman manja Dewi. Dan Awan merindukan semua dari Dewi.

"Seandainya waktu itu tidak pernah aku ajak bercanda...." desah Awan.

"Seandainya kamu masih ada disini, mas..." ujar Dewi ditengah isak tangisnya.


Seminggu yang lalu adalah ruang waktu yang bahagia untuk mereka menyatukan jari manis dengan cincin yang sama. Seminggu yang lalu adalah cerita pertama Awan melihat istrinya tidur dengan cantik disampingnya. Seminggu yang lalu merupakan kabar terindah karena Awan bisa meminta Dewi untuk selalu dimasakkan makanan favoritnya. Dan seminggu adalah keajaiban Tuhan mereka bisa merasakan bahagia bersama.

Yang kemarin, Tuhan mengambil kebahagiaan itu. Awan dijemput dan dipulangkan dengan mobil ambulance hanya raga. Dan Awan kembali dengan kerinduan yang terbungkus.

 Awan mungkin sering bercanda dengan waktu -dan itu acapkali membuat Dewi kesal karena hobi suaminya yang tak pernah berubah-, tetapi Awan tak pernah mengajak bermain dengan janji.

"Aku datang membawa rindu untukmu, sayang. Aku berusaha disampingmu setiap kamu pudar. Itu janjiku kan, sayang? Meski hanya bias yang membawaku kesini...."

Awan memeluk istrinya dalam-dalam dengan angin. Tiupan rindu itu mengawang dan memecah titik hujan Dewi.

18 Januari 2016

Rinai, Hujan

2 Comments

Sekalinya pun Rinai tahu, yang terjadi adalah dua hal: pertama, semuanya berakhir dan menjadi masa lalu; kedua, semuanya kembali dan mengulang lagi kesedihan, entah menjadi kesedihan yang baru atau kesedihan yang lama.

Rinai bosan melamat angka dalam angka di kalender. Menghitung spasi dan kecepatan detik waktu memakan tiap angkanya. Hari berlari dalam persimpangan hidupnya. Tanpa permisi. Tak membiarkan Rinai berkata "pause" dan berpikir langkah kedepannya harus seperti apa. Umurnya semakin bertambah. Kawanan rekat mulai menyantumkan pertanyaan yang membuatnya semakin mangu, "Kapan kau menikah?".

Rinai berusaha tenang melaluinya. Rinai berusaha mengikuti alur melodi hatinya meskipun kadang-kadang ia sering mengalah karena tak sesuai. Ia berpikir, "Dia yang akan membimbingku. Aku akan ikut pada apapun pilihannya.". Tapi siapa sangka roda jaman semakin menggilas perasaan. Pilihannya sering berganti dan selalu menggantung, membuat Rinai semakin kalu untuk memandang masa depan karena Rinai benci hidup tanpa rencana yang mapan.

Sepuluh tahun lalu ia menemukannya...
Sepuluh tahun mereka melaluinya...
Sepuluh tahun ia bersabar pada apapun pilihannya...
Sepuluh tahun mereka mulai menemukan banyak perbedaan...

Rinai bosan menunggu Surya. Yang ada, selalu, Rinai bertemu Hujan. Membuat kolam-kolam kecil semakin penuh. Selalu.

21 Desember 2015

"Rumah Tanpa Kamar"

1 Comments

Ini sudah memasuki tanggal 21. Pertengahan Desember 2015. Tiga hari lagi. Tiga hari lagi menuju rumah. Entah perasaan apa yang menggelayut. Sedih iya, bahagia iya. Sudah tidak sabar iya, namun tidak ingin buru-buru jua. Perasaan ini semakin mengembang dan.... entah, rasanya semakin sakit. Dibuat tidur malah menjadi-jadi tidak bisa tidurnya. Pikiran entah kemana terbangnya. Semuanya tumpah ruah dan menjadi sensi.

Seharusnya bahagia...
Seharusnya bahagia...

Titik-titik embun meluncur disuatu malam. Tak terbendung. Tak tertahan. Semuanya pecah ruah dan mengecewakan. Sepertinya benar kata orang lain, jika suatu keinginan yang ditahan dan orang lain menyuruhmu untuk sabar sampai suatu waktu yang tak ada ujungnya, kamu tidak akan pernah percaya lagi dengan yang namanya sabar. Mungkin lelah. Janji tetaplah janji, tidak akan pernah terbayar.

Itu rumahku. Rumah kecil milik orang lain yang dititipkan pada kami. Bukan seenaknya kami bisa memindah barang disini sesuka kami. Hanya dititipkan. Dan aku sepertinya mulai lelah mendengar kata dititipkan. Yang berarti bukan hakku. Tidak ada ruang untukku. Tidak ada nafas luang untukku. Tidak ada kamar untukku. Kami saling berbagi kamar. Kami saling berbagi bantal dan guling. Kami saling berbagi pelukan. Dengan semuanya. Dengan suara dentuman jam, air, cicak, tetangga yang sedang bertengkar, ataupun anak tetangga yang sedang menangis.

Aku mungkin egois, berharap Tuan mendengar keinginanku dan mengabulkannya. Detik ini juga. Tapi apalah aku... yang hanya bisa meminta. Jikalau aku bermimpi memiliki pengganti impiku, aku mungkin akan egois memakainya sendiri, bukan untuk keluargaku. Mungkin ini dari kelelahanku bersabar. Mungkin ini dari kelelahanku menabung impi.

Itu rumahku. Tidak ada jendela yang bisa mewakili tuk bilang "Hei itu kamarku!". Tidak ada duniaku yang tersimpan dalam kotak kenangan. Mungkin aku bisa bahagia, atau mungkin aku bisa lebih bahagia. Demi mereka.





Regards,
Aku.

23 Februari 2015

Selfie with B612

3 Comments

Setuju nggak, kalau ngikutin teknologi itu gak pernah ada habisnya? Yang setuju angkat tangaaaaan!
Teknologi kini memang jadi senjata utama dalam kehidupan sehari-hari. Dimana pun, kapan pun, teknologi dibutuhkan. Mulai dari hal penting di dunia kerja sampai hal sepele di kehidupan sehari-hari. Gak bisa masak? Ada Google yang bisa bantu kamu ngasih solusi bumbu-bumbu apa saja yang digunakan buat bumbu masakan kamu lebih nendang. Malas hitung deret angka yang banyak, ada Microsoft Excel yang bisa bantu kamu menghitungnya jadi lebih mudah. 
Nah, kali ini LINE berinovasi pada karya terbarunya. Mungkin ingin gak kalah pamor dengan Camera 360, LINE meluncurkan aplikasi baru yang bernama B612. Aplikasi ini bener-bener keren! Filternya disediakan banyaaaaaak. Gak cukup belasan, ada puluhan (jumlah detailnya kurang tahu berapa. Aku sendiri gak hitung). Sudah gitu, ada pilihan mau foto sekali atau berkali-kali dengan tampilan beberapa kotak dalam satu frame. Yang bikin aku ketagihan bernarsis ria pakai aplikasi ini, adalah filternya pinter banget bikin wajah kumur-kumus dan belum keramas jadi kelihatan cantik :)) Hahaha! Sampai-sampai aku yang gak terlalu suka narsis, jadi keranjingan selfie.


 Hasil selfie menggunakan aplikasi B612

Selain bisa buat foto-foto narsis, aplikasi ini bisa buat video juga lho! Cuma kekurangannya, pembuatan videonya cuma sebentar, gak bisa lama. So, kalau saran aku sih, mending kalau buat edit video dengan durasi lama dan dengan efek slide yang macam-macam, aplikasi Photo Grid lebih baik. 

Semakin banyak aplikasi keren nih di 2015. Kamu mau pilih yang mana? Terserah sih, yang penting jangan sampai lupa waktu dan jadi autis ya :) Let's be smart ^^

16 Januari 2015

Merantau: Batam Island

9 Comments

Sibuk apa sekarang, ras? Kok gak pernah lihat postingan baru di blognya? 

Aduh, pertanyaan itu sering banget nabok mukaku ketika lagi gak ada kerjaan gini. Hahaha kurang ajar banget ya, waktu nganggur baru keinget sama blognya :)) Padahal, oh padahal, blog ini sudah membantu  banget buat promosiin bisnis onlineku *peace.

Duluuuuu sering iri banget sama sahabat blogger yang bisa travelling kesana-kemari seenak jidatnya. Apalagi yang bisa travelling sekaligus nyambi kerja. Ngerti maksudku kan? Dia kerja, tapi bisa sekalian travelling gitu. Sampai-sampai kebayang gimana suatu saat nanti aku dapat kerjaan yang mengharuskanku keliling sana-sini. Waaaaah pasti seru. Eh nggak tahunya........ Alhamdulillah. Allah memberiku kesempatan luar biasa untuk memulainya dari hal yang kecil. Aku dapat rejeki untuk memulai karir pertamaku di perusahaan besar di Batam. Iya, jauh banget. Dulu waktu kuliah sudah pernah merantau, tapi tinggal loncat sudah sampai (baca: Malang). Sekarang diberikan kesempatan lagi buat merantau, dan kali ini lebih jauh. Gak kenal siapa-siapa disana. Cuma modal banyak teman yang berangkat kerja di tempat yang sama banyak, 20 orang.

Kami berangkat tanggal 30 Desember 2014 dan besoknya sudah masuk kantor untuk training. Training berlangsung hingga enam sampai tujuh hari. Sekarang, sejak postingan ini hadir diantara kalian, aku sudah bekerja selama dua minggu. Yang mengejutkan setelah training selesai dan pembagian department, posisiku yang sebelumnya di bagian purchasing dipindahkan ke bagian marketing. Kaget? Iya kaget banget, secara aku sama sekali gak pernah tahu seluk-beluknya department marketing. Cuma sekedar tahu soal berjualan online. Masuk-masuk langsung dihadapkan dengan yang namanya Dokumen Tender yang tebelnya masyaallah, hahaha. Untung semua staff marketing disini mau menerangkan dan telaten mengajarkanku.

Enaknya kerja disini, meskipun jauh nyeberang pulau, kebanyakan orang yang aku temui adalah orang Jawa. Apalagi karyawan dan staff di kantor. Jadi gak berasa hidup di pulau orang sendirian, hihi. Asyik-asyik dan ramah orangnya. Tipe orang pemalu dan sungkan kayak aku jadi mudah akrab dengan yang lain :D Pak bosnya juga baiiiiik banget. Hari minggu kemarin, tanggal 11 Januari 2015, memperbolehkan salah satu driver-nya buat nganterin kami jalan-jalan keliling Batam. Tentu kami excited banget, mengingat dari mess menuju Batam centre itu jauhnya gak ketulungan --naik taxi bisa habis sekitar Rp 160.000 pulang-pergi.

Rute perjalanan kami yaitu ke Jembatan Barelang - kampung Vietnam - Coastarina. Jangan bayangkan CUMA 3 TEMPAT aja gak bikin capek. Dari mess menuju jembatan Barelang aja sekitar 30 km, dan menuju ke kampung Vietnam harus nyeberang jembatan Barelang lainnya karena letak kampung Vietnam berada di Pulang Galang (masih masuk daerah Riau).




Foto selfie dulu lah yaa.. (@ Jembatan Barelang)

 Kami membutuhkan waktu hampir seharian menuju ketiga tempat tersebut. Seru? Seru banget! Capek? Waaaah jangan ditanya deh itu. Sampai-sampai perjalanan dari kampung Vietnam menuju Coastarina kami semua lelap tertidur. Eh tapi lelah kami terbayar karena Coastarina pemandangannya bagus banget. Aku acungi jempol buat pengelolanya.


Sebagian pemandangan yang ada di Coastarina.
Foto sebelah kanan adalah jembatan menuju Rumah Kopi Fatmawati 


Lalu kemana lagi kami akan melancong di Pulau Batam ini? Tunggu saja... naluri jalan-jalanku masih membabi-buta kalau belum mengelilingi semuanya. Semoga saja ada waktu untuk dibagikan ceritanya dengan kalian ;)




Salam ^^